Sabtu, 27 September 2014

JIWA DAN KEBEBASAN


JIWA DAN KEBEBASAN

Eksistensi jiwa dalam tubuh memampukan manusia untuk menghadirkan diri secara total di dunia dan memungkinkan manusia menentukan perbuatannya
Dalam fungsi menentukan perbuatan, jiwa berhubungan dengan kehendak bebas . Karena jiwalah manusia menjadi mahluk bebas
Kebebasan itu mendasar bagi manusia dan merupakan penting humanisme

sejarah manusia merupakan sejarah perjuangan kebebasan” (Erich Fromm, The Fear of Freedom, 1960)
Artinya, kebebasan menjadi bagian tak terpisahkan dari eksistensi manusia

Pandangan Determinisme
}  Determinisme adalah aliran yang menolak kebebasan sebagai kenyataan hidup bagi manusia. Setiap peristiwa, termasuk tindakan dan keputusan manusia disebabkan oleh peristiwa-peristiwa lainnya.
}  Seluruh kegiatan manusia di dunia berjalan menurut keharusan yang bersifat deterministik
       Determinisme fisik-biologis
       Determinisme psikologis
       Determinisme sosial
       Determinisme teologis

Kebebasan Sebagai Eksistensi Manusia
}  Kelemahan determinisme:
       Menyangkal sifat multidimensional dan paradoksal manusia (paradoks tidak menjadikan kebebasan juga keharusan, bukan?)
       Menyangkal bahwa manusia selalu melakukan evaluasi dan penilaian terhadap tindakannya
       Menafikan adanya tanggung jawab (tak relevan menuntut tanggung jawab atas kesalahan, bukan?)

Kebebasan Sebagai Bagian Eksistensi Manusia, Apa Argumennya?
}  Manusia hidup dalam “kemungkinan dapat”/berhadapan dengan pilihan berbeda bobot
}  Adanya tanggung jawab (bagaimana kehidupan berjalan teratur tanpa adanya tanggung jawab?)
}  Makna perbuatan moral ada pada kebebasan (bnd. Pandangan Immanuel Kant tentang kebebasan dan kehidupan moral)


Apa arti kebebasan?
}  Pengertian umum/Kebebasan negatif/tidak ada hambatan (tidak ada paksaan, tidak ada hambatan, tidak ada halangan, tidak ada aturan). Tapi ini bukan kebebasan eksistensial
}  Pengertian khusus/kebebasan eksistensial
       Penyempurnaan diri
       Kesanggupan memilih dan memutuskan
       Kemampuan mengungkapkan berbagai dimensi kemanusiaan (kebebasan/hak-hak dasar seperti ditegaskan Franz Magnis-Suseno)

Jenis-jenis kebebasan
  • Kebebasan horizontal (berkaitan dengan kesenangan dan kesukaan, bersifat spontan, semata pertimbangan intelektual) dan kebebasan vertikal (pilihan moral, pertimbangan tujuan, tingkatan nilai)
  • Kebebasan eksistensial (kebebasan positif, lambang martabat manusia) dan kebebasan sosial (terkait dengan orang lain, kebebasan
  • Nilai humanistik dalam kebebasan eksistensial
    • Melibatkan pertimbangan
    • Mengedepankan nilai kebaikan
    • Menghidupkan otonomi
    • Menyertakan tanggung jawab
Kebebasan sosial dibatasi dalam hal fisik, psikis dan normatif
4 alasan adanya pembatasan kebebasan sosial:
    • Menyertakan pengertian
    • Memberi ruang bagi kebebasan eksistensial
    • Menjamin pelaksanaan keadilan bagi masyarakat
    • Terkait dengan hakikat manusia sebagai mahkhluk sosial
Sejarah perkembangan masalah kebebasan
-          Masalah yang sudah sangat lama dan memiliki sejarah panjang
-          Filsafat Yunani tidak memberikan jawaban yang memuaskan atas masalah kebebasan karena…
  Adanya pandangan bahwa semua hal berada di bawah “nasib”, “kehendak mutlak” yang mengatasi manusia dan para dewasa, yang secara sadar atau tidak sadar menentukan tindakan. Jadi, tak ada pertanggungjawaban manusia atas tindakannya
  Menurut pemikiran Yunani, manusia adalah bagian alam maka harus mengikuti hukum umum yang mengaturnya
  Manusia terpengaruh oleh sejarah yang bergerak secara siklis
-          Zaman abad pertengahan, masalah kebebasan dilihat dalam perspektif teosentrik
-          Zaman modern, perspektif teosentrik digantikan oleh perspektif antroposentrik
-          Era kontemporer (pascamodern), kebebasan dipermasalahkan dari sudut pandang sosial
-          Kebebasan dalam pemikiran Timur cenderung dilihat sebagai pembebasan dari kendala keinginan egoistik dan dari kecemasan untuk mencapai kesatuan dan pengendalian diri

MANUSIA DAN AFEKTIVITASNYA

Kekayaan dan kompleksitas afektivitas manusia
 
Yg membedakan manusia dg tumbuhan: afektivitasnya.
Afektivitaslah yg membuat manusiaberadadi dunia, berpartisipasi dg org lain. Afektifitaslah yg mendorong org utk mencintai, mengabdi dan menjadi kreatif.
Cara hadir kita di dunia diperdalam oleh afektivitas.
Afektivitas termasuk kegiatan yg kompleks.
Bgm disposisi afektif dasariah si subyek thdp obyeknya? àSeluruh kehidupan afektif berputar pd dua kutub yg bertentangan satu sama lain: mengarah pd obyek krn menyukainya, atau berpaling drnya krn menganggapnya buruk. Cinta = buah afektivitas positif, benci= buah afektivitas negatif. Sebenarnya cintalah yg paling dasariah.
Sikap mana yg diambil afektivitas berhadapan dg obyek?àThdp obyek yg dianggap berguna subyek mencintainya. Ini disebut cinta utilitaris/bermanfaat.
Bgm sikap subyek dpt ditentukan scr afektif oleh obyeknya? Dibedakanperasaandanemosi’.àKehidupan afektif memperlihatkan macam2 cara yg berbeda2 menurut bgm subyek menguasai obyek. Keadaan afektif yg berbeda2 ini disebuthasrat-hasrat jiwa’ (Thomas Aquinas).
Meninjau ciri khas kebenaran afektivitas yg disebutsuasana hati.’ Org bersuasana hati baik: bila semua kemampuan bekerja dg baik.
Apa yg bukan perbuatan afektif 
Cinta membuktikan diri dlm perbuatan2. Cinta mendahului perbuatan2.
Kerap afektivitas itu disamakan dengan kesanggupan merasa: Padahal kehidupan afektif bukan hanya menyangkut merasa saja, tapi juga menyangkut hal yg spiritual.  
Apa yg merupakan perbuatan afektif?
   Hidup afektif atau afektivitas=seluruh perbuatan afektif yg dilakukan subyek sehingga subyek ditarik oleh obyek atau sebaliknya.
Perbuatan afektif sedikit mirip dg  perbuatan mengenalkrn dianggap perbuatan vital/imanen. Tapi perbuatan afektif beda dg ‘perbuatan mengenalkrn perbuatan afektif itu lebih pasif, sedangkan padaperbuatan mengenalsubyek membuka diri pd obyek. Kondisi afektivitas manusia
 Agar ada afektivitas, perlu suatu ikatan kesamaan antara subyek dan obyek perbuatan afektifnya.
Apakah kesenangan harus dicurigai? Saya hidup dibawahcara afektifkesenangan, bila sy sungguh bersatu dlm perasaan dan pikiran dengan apa yg baik bagi saya. Kesenangan=perasaan yg dialami subyek bila dia dihinggapi oleh keadaan berada lebih baik.
  Kondisi afektivitas manusia
-Agar ada afektivitas, perlu suatu ikatan kesamaan antara subyek dan obyek perbuatan afektifnya.
-Apakah kesenangan harus dicurigai? Saya hidup dibawahcara afektifkesenangan, bila sy sungguh bersatu dlm perasaan dan pikiran dengan apa yg baik bagi saya. Kesenangan=perasaan yg dialami subyek bila dia dihinggapi oleh keadaan berada lebih baik.
 
 Catatan ttg cinta akan diri, sesama dan Tuhan
 
Org sering menganggap cinta diri sendiri adalah egoisme, maka tidak baik. Padahal cinta akan diri sendiri dapat ditemukan pada orang yang sanggup mencintai org lain dg sungguh2.
Egoisme menolak setiap perhatian otentik pd org lain. Org egois hanya mengambil untung dr apa saja.
Jika kita mencintai Tuhan dg seluruh jiwa/hati, tdkkah itu sama dg mengasingkan diri dr diri sendiri? Tidak. Tuhan tdk melawan kita. Ia transenden dan imanen. St. Agustinus: Tuhan adalah pokok pangkal kepribadian kita masing2. Ia = dasar dlm mana semua manusia saling berkomunikasi. Makin sy mendekati org lain, makin saya mendekati Tuhan.
 
 

ETIKA DAN MORAL

 


PENGERTIAN ETIKA

Etika sbg cabang filsafat juga disebut filsafat moral (moral philosophy).Secara etimologis, etika berasal dari kata Yunani=Ethos: watak.Sedangkan moral berasal dari kata Latin: Mos (tunggal), moris (jamak) artinya kebiasaan. Jadi etika atau moral dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kesusilaan. Obyek material dari etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia.Perbuatan dimaksudkan di sini adalah yang dilakukan secara bebas dan sadar.Obyek formal dari etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut.

Etika dibedakan menjadi 2, yaitu :
       ETIKA PERANGAI
                Adat istiadat atau kebiasaan yang menggambarkan perangai manusia dalam hidup bermasyarakat di daerah-daerah tertentu, pada waktu tertentu pula.berlaku karena disepakati masyarakat berdasarkan hasil penilaian perilaku. Contoh: berbusanaadat, pergaulan muda-mudi, perkawinan semenda, upacara adat.
       ETIKA MORAL
 Berkenaan dengan kebiasaan berperilaku baik dan benar berdasarkan kodratmanusia.Apabila dilanggar timbul kejahatan, yaituperbuatan yang tidak baik dan tidak benar.Kebiasaan ini berasal dari kodrat manusia yang disebutmoral.Contoh: berkata danberbuat jujur, menghargai hak orang lain, menghormati orang tuaatau guru, membelakebenarandankeadilan, menyantunianakyatim-piatu

ARTI ETIKA
       Etikasebagaiilmu
                “Ilmutentangapa yang baikdanapa yang burukdantentanghakdankewajiban moral.”
       Etikasebagaikodeetik
                “Kumpulan asasataunilai yang berkenaandenganakhlak.”
       Etikasebagaisistemnilai
                “Nilaimengenaibenar-salah yang dianutolehsuatugolonganataumasyarakat.”

OBYEK MATERIAL DAN OBYEK FORMAL ETIKA
       Objek material = suatuhal yang dijadikansasaranpemikiran, suatuhal yang diselidiki, atausuatuhal yang dipelajari. Objek material bisabersifatkonkretatauabstrak.
       Objek formal = caramemandangataumeninjau yang dilakukanseorangpeneliti/ ilmuwanterhadapobjekmaterialnyasertaprinsip-prinsip yang digunakannya.
       Objek material etika= tingkahlakuatauperbuatanmanusia(perbuatan yang dilakukansecarasadardanbebas).
       Objek formal etika = kebaikandankeburukan, bermoraltidakbermoraldaritingkahlakutersebut. (Perbuatan yang dilakukansecaratidaksadaratautidakbebas, tidakdapatdikenakanpenilaianbermoralatautidakbermoral).

ETIKA SEBAGAI CABANG ILMU FILSAFAT
Etika merupakan cabang filsafat yang mengenakan refleksi dan metode tugas manusia dalam upaya menggalinilai-nilai moral, atau menerjemahkan pelbagai nilai itu kedalam norma-norma, lalu menerapkannya pada situasi kehidupan konkret.
Sebagai ilmu, etika mencari kebenaran; sebagai filsafat, etika mencari keterangan (dan kebenaran) yang sedalam-dalamnya. Sebagai tugas, etika mencari ukuran tentang baik-buruknya tingkah laku manusia.
Berdasarkan kajian iilmu, etikadibedakan menjadi 2 , yaitu :
1. Etika Normatif: mempelajari secara kritis dan metodis norma-norma yang ada, untuk dapat norma dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.
2.Etika Fenomenologis: mempelajari secara kritis dan metodis gejala-gejala moral seperti suara hati kesadaran moral, kebebasan, tanggung jawab, norma-norma, dsb.

TUJUAN BELAJAR ETIKA
-Untukmenyamakanpersepsitentangpenilaianperbuatanbaikdanperbuatanburukbagisetiapmanusiadalamruangdanwaktutertentu  -Sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.

PERBEDAAN ETIKA DENGAN ETIKET
Etiket menyangkut “cara” suatu perbuatan harus dilakukan.Etika tidak terbatas pada cara dilakukannya suatu perbuatan; etika memberi norma tentang “perbuatan itu sendiri”.
Etiket hanya berlaku dalam pergaulan; etika tidak tergantung pada hadir tidaknya orang lain.
Etiket bersifat relatif; etika jauh lebih bersifat absolut.
Etiket hanya memandang manusia dari segi lahiriah saja; etika menyangkut manusia dari segi dalam.






PERBEDAAN ETIKA DAN ETIKET MENURUT BERTENS
ETIKA
ETIKET
1. Menetapkannormaperbuatan,
apakahbolehdilakukanatau
tidak, misal: masukrumah orang
laintanpaizin.
1. Menetapkancaramelakukan
perbuatan, menunjukkancara
    yang tepat, baik, danbenar
sesuaidengan yang diharapkan
2. Berlakutidakbergantungpada
adatidaknya orang lain, misal
laranganmencuriselaluberlaku, 
baikadaatautidak orang lain.
2. Berlakuhanyadalampergaulan,
jikatidakada orang lain etiket
tidakberlaku.
3. Bersifatabsolut, tidakdapat
ditawar-tawar, misal: jangan
mencuri, janganmembunuh
3. Bersifatrelatif, dianggaptidak
sopandalamsuatukebudayaan
dapatdianggapsopandalam
kebudayaan lain.
4. Memandangmanusiadarisegi
dalam<batiniah>
4. Memandangmanusiadarisegi
luar<lahiriah>