Sabtu, 27 September 2014

SUBYEKTIVISME DAN OBYEKTIVISME




SUBYEKTIVISME
Pendukung pandangan ini adalah:
       - Aristoteles, Plato, Rene Descartes
       - Kaum Solipsisme (solo ipse)
       - Kaum Realisme Epistemologis
       - Kaum Idealisme Epistemologis
Ciri-ciri pendekatan Subyektivisme:
§  Menggagas pengetahuan sbg suatu keadaan mental yang khusus (semacam kepercayaan yang istimewa),misalnya sejarah, kepercayaan2 yg lain, dst.
§  Pengalaman subyektif (kokoh terjamin) sbg titik tolak pengetahuan dari data inderawi (intuisi) diri sendiri.
§  Prinsip subyektif tentang alasan cukup, karena pengalamanan bersifat personal, benar secara pasti dan meyakinkan karena berlaku sebagai pengetahuan langsung dari diri subyek.
DESCARTES : Cogito ergo sum cogitans: saya berpikir maka saya adalah pengada yang berpikir.Ketika Descartes berbicara mengenai “berpikir”, ia tidak bermaksud secara eksklusif pd penalaran saja, tetapi melihat, mendengar, merasa, senang atau sakit, kehendak (seluruh kegiatan sadar) masuk dalam kegiatan “berpikir”.
Realisme Epistemologis: berpendapat bahwa kesadaran menghubungkan saya dengan “apa yg lain” dari diri saya.
Idealisme Epistemologis: berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir di dlm suatu ide, yg merupakan suatu peristiwa subyektif murni.


OBYEKTIVISME
Obyektivisme ialah suatu pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia – dari soal yang sederhana sampai teori yang kompleks – mempunyai sifat dan ciri yang melampaui (di luar) keyakinan dan kesadaran individu (pengamat).
Pengetahuan diperlakukan sebagai sesuatu yang berada diluar ketimbang di dalam pikiran manusia.
Pendukung pandangan ini adalah: Popper, Latatos dan Marx
Obyektivismemerupakanpandanganbahwaobyek yang kitapersepsikanmelaluiperantarainderakitaituadadanbebasdarikesadaranmanusia.
Objektivismeiniberanggapanpadatolakukursuatugagasanberadapadaobjeknya.
Objektivismediartikansebagaipandangan yang menganggapbahwasegalasesuatu yangdifahamiadalahtidaktergantungpada orang yang memahami.
Ada 3 pandangandasar Objektivisme:
  1. Kebenaranituindependenterlepasdaripandangsubjektif,
  2. Kebenaranitudatangdaribuktifaktual,
  3. Kebenaranhanyabisadidasaridaripengalamaninderawi.
Pandanganinisangatdekatdenganpositivismedanempirisme.
PengetahuandalampengertianObjektivis:
       sepenuhnyaindependendariklaimseseoranguntukmengetahuinya ;
       Pengetahuan ituterlepasdarikeyakinanseseorangataukecenderunganuntukmenyetujuinyaataumemakainya untukbertindak.
       Pengetahuandalampengertian obyektivisadalahpengetahuantanpa orang: iaadalahpengetahuantanpadiketahuisubjek.” (Karl R. Popper)
Obyekitubersifat “umum” dalamartibahwaobyek yang samadapatdipersepsikanolehpengamat yang jumlahnyatidakterbatas.Obyek-obyekitubersifatpermanen, baik untuk dipersepsikanatau pun tidak.
Obyek-obyekmemilikikualitas-kualitas yang samaseperti yang disajikankepadapersepsi, sehinggatindakanpersepsitidakmengubahsedikit pun obyek.
 Para filsufSkolastikmengangapperluuntukmemperbaikibeberapakeyakinanhariankita, yaitu:meletakkan “kesalahan” padaindera, karenainderatidakpernahsalah.
Untukmempercayaikebenarankesaksianinderawi,beberapasyaratharusdipenuhi:
a. Obyekharussesuaidenganjenisinderakita. Warna-warna infra merahtidakcocokbagiinderakita.
b.Organinderaharusnormal dansehat. Misalnyabuta, tuli, ataubutawarna.Tidakdapatmelakukanpenginderaansecaraobyektif.
c. Karenaobyekditangkapmelalui medium, makamediumituharusada. Misalnya, warnaakanditangkatideradengantepatapabila di bawahsinarmataharidaripada di bawahsinarmerah yang digunakanuntukmencetakfoto.
Perlumengingatpembedaanantaraobyekkhususdanobyekumum.
v  Obyekkhususmerupakan data yang ditangkaphanyaolehsatuindera. Misalnya, warna, suara, bau.
v  Obyekumummerupakan data yang dapatditangkapolehlebihdarisatuindera. Misalnyakeluasandangerakan yang dapatdilhatdandirabaatauolehinderalainnya.
Keyakinantidaklahselaluobyektifdalamhubungannyadengankesadaranpertimbangan, tetapiobyek-obyekkonseptualbenar-benarbersifatobyektif.Masalahpersepsitetapmerupakanmasalah yang paling besar yang tidakterpecahkan di dalamkeseluruhan epistemologi.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar